Pengenalan Strategi Pragmatik

Pragmatik merupakan kajian tentang bagaimana konteks mempengaruhi makna dalam komunikasi. Dalam kehidupan sehari-hari, strategi pragmatik sangat penting untuk mencapai tujuan komunikasi yang efektif. Saat berbicara dengan orang lain, baik itu dalam situasi formal maupun informal, kita sering kali menggunakan berbagai strategi untuk menyampaikan pesan secara tepat, menghindari kesalahpahaman, serta membangun hubungan yang positif dengan lawan bicara.

Pemilihan Kata yang Tepat

Salah satu strategi pragmatik yang paling mendasar adalah pemilihan kata atau istilah yang sesuai dengan situasi dan konteks komunikasi. Misalnya, ketika seorang guru berbicara kepada murid di kelas, ia cenderung menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Di sisi lain, saat berkomunikasi dengan rekan sejawat dalam sebuah seminar akademis, ia mungkin akan menggunakan istilah teknis yang lebih kompleks terkait dengan bidang studi.

Dalam situasi santai, seperti saat berbincang dengan teman dekat, kita mungkin lebih bebas dalam memilih kata-kata, menggunakan bahasa sehari-hari atau istilah gaul. Misalnya, ketika seorang teman bercerita tentang kendaraan baru, kita dapat menanggapi dengan antusias dan menggunakan istilah yang familiar, seperti “Gokil, mobilnya keren banget!”

Orang Ketiga sebagai Strategi Penyesuaian

Strategi lain dalam pragmatik adalah penggunaan orang ketiga untuk meredakan tensi atau menciptakan suasana yang lebih santai. Dalam situasi yang emosional atau konflik, seseorang mungkin akan berbicara tentang pihak ketiga, untuk menghindari konfrontasi langsung. Sebagai contoh, ketika dua orang teman terlibat dalam debat, mereka bisa saja merujuk kepada pendapat “sebagian orang” yang mendukung salah satu argumen untuk mengurangi ketegangan yang ada. Ini memungkinkan mereka untuk tetap berbicara secara objektif tanpa harus menyentuh isu sensitif secara langsung.

Implikasi dan Konteks Budaya

Pragmatik juga sangat dipengaruhi oleh budaya tempat kita berada. Setiap budaya memiliki norma dan nilai yang berbeda, yang mempengaruhi cara orang berkomunikasi. Dalam budaya Indonesia, misalnya, adanya nilai kesopanan membuat orang cenderung menggunakan bahasa yang halus dan tidak langsung dalam menyampaikan kritik atau saran.

Ketika seseorang di Indonesia ingin memberikan masukan kepada atasan, mereka mungkin akan menggunakan kalimat yang lebih diplomatis dengan menyisipkan pujian terlebih dahulu, seperti “Saya sangat menghargai inisiatif yang Bapak/Ibu ambil, tetapi ada beberapa hal yang mungkin bisa kita pertimbangkan lebih lanjut.” Dengan demikian, strategi ini membantu untuk menjaga hubungan baik sekaligus menyampaikan pesan dengan efektif.

Strategi Menyampaikan Permintaan

Dalam kehidupan sehari-hari, saat kita mengajukan permintaan, bagaimana kita menyampaikan permintaan tersebut juga merupakan bagian penting dari strategi pragmatik. Misalnya, saat meminta bantuan dari seorang teman, kita sering kali akan mempertimbangkan kata-kata yang kita pilih untuk membuat permintaan terasa lebih sopan dan tidak membebani.

Daripada langsung meminta, kita mungkin akan mengatakan, “Jika tidak keberatan, bisa tolong bantu saya?” Atau, “Saya akan sangat berterima kasih jika kamu bisa membantu saya.” Dengan menggunakan bahasa yang lebih lembut, kita tidak hanya mengungkapkan permintaan kita, tetapi juga menunjukkan rasa hormat dan penghargaan kepada orang lain.

Peran Intonasi dan Ekspresi Nonverbal

Strategi pragmatik juga mencakup aspek nonverbal dalam komunikasi, seperti intonasi, ekspresi wajah, dan bahasa tubuh. Sering kali, apa yang kita sampaikan dengan suara dan gerak tubuh dapat memberikan arti yang lebih dalam daripada kata-kata itu sendiri. Misalnya, ketidakpastian dalam suara saat menyampaikan berita buruk bisa menunjukkan empati atau keraguan, yang mungkin tidak akan terlihat dari kata-kata saja.

Saat seseorang memberi selamat, sebuah senyuman lebar dan nada yang ceria akan lebih memperkuat makna positif dari ucapan tersebut. Dalam lingkungan kerja, cara kita berinteraksi secara nonverbal bisa memperkuat hubungan profesional yang harmonis atau bahkan sebaliknya, menciptakan jarak jika tidak diperhatikan dengan baik.

Dengan memahami dan menerapkan strategi pragmatik ini dalam komunikasi sehari-hari, kita dapat menjadi komunikator yang lebih efektif, serta meningkatkan kualitas hubungan sosial kita secara keseluruhan.